Tampilkan postingan dengan label 30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Saat Hanya Bayangan

Mungkin aku sudah gila, karena kau selalu hadir di pelupuk mataku. Jangan tertawa! Aku tahu mataku ini sekarang sudah empat, bertambah dua karena kacamata yang harus terus kupakai agar dunia terlihat jelas.

Apa perlu ke dokter lagi hari ini? Karna kamu yang terus ada di sini. Kamu yang selalu tertangkap kala bola mataku terbuka. Kamu yang akan selalu tampak kemanapun kusapu pandanganku. Kamu yang ada di sana, namun tak bisa kuraih.

Karna kamu hanya bayangan. Banyangan yang terus ada dan menghantuiku. Meski aku telah melangkahkan kakiku ke pelosok bumi Tuhan yang lain. Tapi kamu tetap ada di sana! Bayanganmu, lebih tepatnya.

Ya, kita hanya dibatasi oleh sekat bernama bayangan. Tidak percaya? Coba saja raba aku, apa kamu bisa? Seperti halnya aku yang tidak  bisa menyentuh ragamu, maka kau tak bisa menyentuh tubuhku. Namun kita tetap bertemu pandang, lewat cermin yang memantulkan bayangan masing-masing. Karena kita tidak bisa bertemu langsung tanpa menghapus bayangan. Itulah kita.

Saat hanya bayangan, jangankan meletakkan tangan untuk merasakan dinginnya batas yang ada. Kita sudah membeku akibat selimut rasa ego yang terus tertanam dalam diri masing-masing. Berteguh pada keinginan hati untuk tidak saling menyapa meskipun rindu. Bersumpah tidak akan berjumpa meski hati terus mencari. Begitulah kita, saat hanya bayangan yang nyata dan tampak di pelupuk masing-masing.

Sabtu, 01 Februari 2014

Terima Kasih Untuk Tuhan

Dear Tuhan Yang Maha Pengasih

Terima kasih Engkau sudah memberiku kesempatan untuk menginjakkan kakiku di tanah haram ini.

Terima kasih Engkau telah memberiku kesempatan mencium masjid-Mu.

Terima kasih telah memberiku kesempatan menyentuhkan wajahku pada batu hitam yang paling mulia.

Terima kasih telah memberiku umur panjang dan kesehatan untuk mengunjungi makam Nabi-Mu Muhammad Saw dan dua pemimpin Islam lainnya, Abu Bakar dan umar.

Terima kasih untukku yang telah menghirup aroma kota haram dan kota rasul-Mu

Terima kasih untuk langit Makkah dan Madinah yang menaungiku.

@sinyaak

Jumat, 31 Januari 2014

Surat Terakhir Untukmu

Hai Kamu!

Ya, kamu yang sudah bertahun mendekam dalam diriku. Aku pikir sudah saatnya kamu untuk keluar dari sana.

Sungguh aku telah memohon pada Tuhan di tempat paling suci di dunia ini, meminta agar kamu tidak lagi selamanya di relung jiwa. Supaya kamu tak selamanya berdegup seirama jantungku. Supaya kamu tidak lagi terhembus di tiap nafasku. Semoga kamu tidak lagi di sana selamanya.

Mungkin itu adalah hukuman Tuhan bagiku untuk mencintaimu selama ini. Hukuman yang dijatuhkan karna kesalahanku padamu. Hukuman yang mencekik tenggorokanku hingga kadang tak ada kesempatan menghirup oksigen. Hukuman yang hampir membunuhku.

Tapi aku tidak menyesal dan mengutuki Tuhan yang menanamkan cinta padamu dalam diriku. Segala sukur telah kupanjatkan pada-Nya, dan kini hanya ampunan yang kurapkan dari-Nya.

Aku berterima kasih pada Tuhan telah menggerakkan penaku menulis namamu selama bertahun-tahun. Hingga kini, sisi hati sebelah mana yang tidak tertoreh namamu di sana. Tapi sekarang sudah cukup. Tintaku telah habis. Ruang juga tak cukup lagi untukku menuliskannya.

Terima kasih untukmu yang pernah menjadi pelangi. Terima kasih untukmu yang pernah menjadi badai. Terima kasih untukmu yang pernah menjadi lautan.

Terima kasih dan maaf.

@sinyaak

 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com