![]() |
| credit: google.com |
Senin, 13 Januari 2014
Surat (Pos) Cinta
Senin, 03 September 2012
にほんのドラマ から...
Kamis, 19 Juli 2012
FF- SURAT
Sabtu, 17 Desember 2011
Arti Hadirmu
Seperti hujan yang selalu dinanti untuk menghapus kemarau.
Seperti matahari yang ditunggu oleh tumbuhan agar dia berfotosintesis.
Seperti bulan yang dinanti langit kelam saat malam.
Aku berharap, kadang dia tidak pernah datang lagi dalam hidupku. Tapi walaupun begitu, aku tetap tidak bisa menyangkal pemberian Tuhan untukku. Walaupun telah banyak waktuku terlawatkan, aku tetap tidak bisa menghapusmu dalam ingatanku.
aku masih ingat, harum tubuhmu yang melekat saat kupeluk kau erat. Wangi tubuhmu masih tercium walaupun kau tidak bersamaku saat ini. aku masih ingat bagaimana caramu menggenggam tanganku. Erat. Seperti kau tidak mau aku hilang darimu.
Aku masih ingat, sentuhan lembutmu saat kau membelaiku hari itu. Perlahan. Namun aku merasakan kasih sayangmu lewat sentuhanmu itu.
Kau tau apa hadirmu untukku?
Aku tidak perlu kau megoceh terlalu banyak agar aku tau kau menyayangiku. walaupun kau hanya duduk di depanku, kau sangat berarti.
Sabtu, 23 April 2011
Aku Benci Hujan
Aku benci hujan. Kenapa?? Karena hujan membuatku bisa membangkitkan kenangan setan dari memoriku yang terdalam.
Ya, Tuhan menurunkan hujan untuk kebahagiaan makhluk sejagat. Dengan hujan tumbuhan bisa tumbuh subur. Kuncup bunga bisa mekar, daun-daun tampak segar kembali setelah diberi minuman oleh Tuhan, dengan hujan. Sungguh, aku mengakui kehebatan Tuhan.
Tapi, dibalik semua rahmat yang diberikan Tuhan, aku sedikit membenci hujan. Karena aku tidak tahan badanku basah, aku tidak tahan dingin. Dan jika hujan turun, aku bisa berlindung di balik selimut tanpa pernah keluar, dan kalau malam hari aku akan bersyukur jika hujan turun, karena membuat tidurku semakin nyenyak. Tapi, aku tetap sedikit tidak menyukai hujan.
Padahal, ada pemandangan menarik saat hujan turun. Aku bisa melihat penerapan nyata dari peristiwa koloid, yaitu kabut. Dan itu terjadi jika hujan turun sangat lebat. Dan setelah titik air itu mereda, kita akan melihat pembiasan cahaya matahari menciptakan tujuh cahaya indah, yang disebut pelangi. Mejikuhibiniu. Dan itu sangat cantik. Tetap saja, aku tidak bisa lebih menyukai hujan. Hufh..
Ada banyak kejadian menyakitkan saat hujan. Dan mulai saat itu aku membenci hujan. Dan salah satunya adalah, saat aku melihat dia berjalan bergandengan tangan dengan tambatan hatinya. Dan hujan turun kala aku melihat mereka berdua. Seperti drama yang diputar di televisi, dan aku menjadi penonton setia sambil bercucuran air mata dan menahan perih. Karena itu aku mulai sedikit membenci suasana waktu hujan.
Rabu, 29 Desember 2010
Personal Taste of Chemistry -Chapter 2-
cast
Joe Jin Hoo as Mr. Dude
Park Kee in as Rini Arsya
Han Chang Ryul as Said Ali Baba
Han Woo as Muhajir
Sang Jun as Zainuddin
Part 2
*flash back*
Waktu Presentasi habis. Ruangan kembali terang benderang. Jin hoo tersenyum puas dengan hologramnya dan juga tepukan tangan dari seluruh peserta yang ada di dalam ruangan tersebut. Sambil menyalai professor yang ada disana, sekilas jin hoo melihat Chang ryui pergi meninggalkan ruangan sebelum yang lain keluar.
Jin hoo dan Sang Jun keluar ruangan dengan tersenyum. Mereka sangat puas dengan presentasi di dalam ruangan tadi.
“Kamu liat kan tadi, semua orang tercengang. Bahkan Chang Ryul dan ayahnya saja tidak bisa berkutik. Hahaha..” Sang Jun tertawa terbahak-bahak saat melihat muka para prof tadi. Mereka sangat terkesima dan terkejut dengan hologram reaksi yang disungguhkan Jin Hoo.
“Ne, naneun ttohan maeu manjog! Kau tau, bagaimana reaksi Do Bin saat aku mulai presentasi. Aku yakin sampai sekarang dia tidak akan pernah melupakan karyaku” Jin Hoo tersenyum.”Tapi aku masih belum puas sebelum hasil pengumuman lelang dikeluarkan. Kau tau bagaimana mereka kan??” Jin Hoo bertanya sambil melirik orang-orang yang ada di belakang mereka.
Chang Ryul sedang berbicara dengan ayahnya. Sepintas, Jin Hoo bisa melihat kalau dia sedang menunduk-nunduk, sepertinya dia masih terlalu dikekang oleh ayahnya sendiri. Jin hoo tersenyum sinis, sambil pergi berlalu.
Diluar ruangan, Kee in menunggu pacarnya dengan hati berdebar-debar. Berkali-kali Kee in merapikan jilbab birunya, saat hendak merapikan bajunya, muka Kee in agak cemberut melihat noda yang dihadiahkan oleh pemuda sombong tadi pagi. Tapi kee in tidak ambil pusing, karena dia masih berpikir bagaimana dan apa yang harus dia lakukan saat nanti mereka bertemu.
Chang Ryul berjalan keluar ruangan, langkahnya langsung berjalan menuju stand yang dia sewa khusus untuk Kee in. Dalam hatinya dia berharap Kee in sedang keluar untuk makan siang, atau sekedar membeli bakso goreng di seberang gedung. Chang Ryul sangat hafal kesukaan wanita tersebut. Kalau siang ini dia tidak beli bakso goreng, maka mukanya akan masam sepanjang hari karena menahan lapar dan kesal karena tidak makan makanan kesukaannya.
“Chang Ryul-sii.. Han Chang Ryul..”
Chang Ryul melihat-lihat kesekelilingnya, mencari sumber suara yang memanggilnya. Dari ujung gang, Kee in melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Muka Kee in sangat sumringah begitu melihat Han Chang Ryul yang baru saja menyelesaikan presentasinya. Kee in berjalan cepat menuju kekasihnya. Dia tidak sabar untuk segera mengobrol dengan pemuda itu.
Chang Ryul sedikit gagok saat Kee in mengepit tangannya dan membawanya pergi ke lapangan tugu untuk mencari bakso goreng. Chang Ryul tidak bisa menolak, walaupun dalam hatinya dia ingin sekali mengatakan pada Kee in sesuatu hal. Tapi melihat Kee in dengan wajah sangat ceria, dan juga sangat bersemangat, pemuda itu pun langsung mengurungkan niatnya untuk bicara. Dia hanya tersenyum saat Kee in memborong semua bakso goreng yang dijual.
“Gimana presentasimu hari ini? Nggak ada gangguan kan?? Capek nggak sih??” Kee in bertanya dengan mulut penuh. Chang ryul sedikit menjaga jarak dengan Kee in siang ini. Chang Ryul berpikir bagaimana cara dia mengatakan pada Kee in yang masih sibuk mengunyah makanan kesukaannya sambil minum the dingin.
“Hmm… baik. Gimana standmu?” Chang Ryul balik bertanya pada Kee in. Kee in mau menjawab dengan mulut penuh makanan, jadi dengan cepat ditelanlah semua makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Baik-baik. Aku suka Stand yang kamu sewa untukku” Kee in tersenyum sambil terus memperhatikan pacarnya. Chang Ryul menolak saat Kee in menawarkannya bakso goreng. Kee in terus mengunyah tanpa memperhatikan Chang Ryul yang sedari tadi gelisah tidak menentu.
“Kee in, aku ingin mengatakan sesuatu..” ucapan Chang Ryul terputus begitu mendengar langkah kaki tergesa-gesa menghampirinya. Chang Ryul bangkit. Kee In melongo melihat dua orang pemuda yang datang menghampiri mereka. Kee In langsung bangkit mendahului Chang Ryul.“Buat apa kamu kesini?” Bentak Kee In pada pemuda tersebut. Pemuda itu tidak menghiraukan Kee In, dia langsung berjalan menghampiri orang yang sedari tadi bersama Kee In.
“Apa yang kamu lakukan hah?? Permainan apa lagi yang kamu rancang??” Jin Hoo menggenggam kerah baju Chang Ryul, genggaman tangannya megeras. Ingin rasanya dia membuat wajah Chang Ryul hancur seketika itu juga.
“Wait..wait..” Kee In mendorong badan Jin Hoo menjauh dari kekasihnya. Kee In ingat, ini pemuda yang tadi pagi membuat masalah dengannya. Perempuan ini masih menyimpan dendam dengan Jin Hook karena baju yang dia pakai tersiram kubangan air.
“Ngapain kamu disini?? Mau nambahin masalah buat aku??” nggak tanggung-tanggung Kee In menodong Jin Hoo dengan pertanyaan segudang. Jin Hoo yang langsung mengenali perempuan yang marah-marah padanya. Matanya sekilas menatap Chang Ryul dan juga melirik cewek urakan yang sedang memarahinya. Sang jun hanya diam, berusaha untuk menenangkan sahabatnya.
“Oo.. Jadi ini pacarmu ya Chang Ryul??” Ujar Jin Hoo sinis. Chang Ryul terkejut saat mendengar komentar yang keluar dari mulut musuhnya itu.
“Mwo?? Mworago??”
“Nee.. Jadi kamu mau apa??” Tanya Kee In. Chang Ryul langsung membekap mulut Kee In. Dan langsung pergi meninggalkan Jin Hoo dan Sang Jun begitu saja. Dari kejauhan, pemuda itu masih bisa mendengarkan Sang jun yang tertawa terbahak-bahak melihat pacarnya musuh Jin Hoo.
Flash Back
Ruang presentasi kembali penuh. Para professor masih berembuk untuk menentukan siapa pemenang dana hibah bantuan beberapa Negara ini. Sang Jun dan Jin Hoo kembali kedalam ruangan setelah capek berkeliling arena pameran.
Nggak lama kemudian, mereka melihat Do Bin masuk bersama dengan ayahnya Chang Ryul. Mereka tampak bercakap-cakap dengan akrab. Sambil sekali-kali merka tertawa, tapi Jin hood an sang Jun tidak tau apa yang mereka bicarakan. Dari cara mereka berbicara, Jin Hoo bisa menangkap sesuatu yang nggak bisa ditangkap Sang Jun, dia tau akan ada hal yang nggak baik dari kedekatan ayahnya Chang Ryul dengan Do Bin.
Presenter masuk dan langsung memulai acara kembali. Kali ini akan diumumkan siapa yang akan mendapatkan uang bantuan hibah dari berbagai Negara untuk penelitian bidang Sains di Universitas ini. Sang Jun berharap-harap cemas, sudah kesekian kali dia mengelap dahinya yang nggak berkeringat sedikitpun. Jin Hoo agak sedikit gelisah, ini yang kedua kali dia memperbaiki cara duduknya.
“Ladies and gentlemen, Now it’s time to us to tell you all who is the winner of this section” presenter mulai membuka amplop yang berisi nama pemenang. “ And the winner is….”
Atmosfir di dalam ruangan kembali berubah. Sang Jun nggak berhendi komat-kamit dari tadi. Jin Hoo memperhatikan mulut Sang Jun, entah apa yang di baca sedari tadi, mulai dari surat Al-Fatihah, sampai jampi-jampi yang nggak jelas juga dia baca. Jin Hoo hanya berdoa semoga kali ini dia bisa memenangkan uang hibah tersebut dan proyeknya kembali berjalan lancar.
“And the winner is Han Chang Ryul. Give applause for Mr. Han Chang Ryul who win this section”
Chang Ryul langsung bangkit dan berjalan kedepan. Tidak lupa dia melemparkan senyuman termanisnya kepada Jin Hoo dan Sang Jun yang menatap tak percaya dengan keputusan yang ditetapkan oleh Dewan juri. Jin Hoo langsung keluar dan menutup pintu ruangan bersamaan dengan Chang Ryul yang tengah menikmati kemenangannya di depan.
Jin Hoo dan Sang Jun kembali ke kantor mereka. Sang Jun terus mengoceh sepanjang perjalanan mereka pulang. Jin Hoo sampai harus menyumbat telinganya dengan penyumbat telinga agar dia tidak lagi mendengar ocehan partner kerjanya itu.
Sementara itu dilain tempat di waktu yang sama. Kee In masih belum mengerti kenapa pacarnya bisa kenal dan hampir berantam dengan pemuda yang menurutnya tidak tau aturan itu. Sambil menghabiskan sisa bakso gorengnya di dalam stand, dia masih terus berpikir bagaimana mereka bisa kenal. Sementara itu Han Woo yang baru saja siap membagikan brosur duduk disamping Kee In dan mencomot satu bakso goreng Kee In.
“Hey!! Kembaliin bakso goreng aku!!” Kee In murka karena bakso gorengnya diambil. Hampir saja dia menggebuk satu-satunya asistennya. Kee In masih merasa frustasi karena sudah dua bulan ini bimbingan belajar yang dia dirikan belum ada yang mendaftar. Bahkan untuk mencari mentor saja dia sudah sangat pusing memikirkan uang darimana dia membayar gaji mereka. Belum lagi dia harus memikirkan kejadian tadi siang. Kenapa pacarnya itu bisa kenal dan bahkan bisa berantam dengan orang paling mengesalkan yang pernah dia temui di dunia ini.
“Kee In-shi.. Park Kee In..” Lagi sibuknya dia berpikir, Kee In sampai tidak mendengar ada orang yang memanggilnya. Suara yang sangat Familiar di telinganya.
“Park Kee In..” sebuah tepukan lembut mengejutkannya. Kee In berbalik dan menatap seornag laki-laki di depannya dengan tatapan tak percaya.
Senin, 06 Desember 2010
Mayat
“ Tolong.. tolong aku…” suara perempuan itu menyayat memecah langit. Hanya cahaya bulan yang mempu menerangi tubuhnya yang bersimbah darah. Tergeletak begitu saja. Tidak ada seorangpun yang tau siapa yang membawa tubuh itu. Seolah tubuh berdarah itu dijatuhkan dari langit. Seekor burung hantu bertengger manja di dahan pohon beringin. Bola matanya merekam seluruh kejadian berdarah malam itu.
***
“Ada mayat…” pekikan seorang wanita memecah keheningan pagi. Tidak perlu waktu lama untuk mengumpulkan warga desa. Diantara mereka yang mengerubungi jasad perempuan itu, ada seseorang yang tersenyum sinis sebelum pergi menjauhi kerumunan itu.
Kamis, 02 Desember 2010
Cintaku Terdiferensialkan oleh Hujan-chapter2-
Ini adalah Sambungan dari Cintaku Terdifirensialkan Hujan. Jadi ini adalah part II nya. Nah, kalo mau baca part satunya, klik aja. Jangan sungkan yaaaa... :D
author: Nurul Sinyak Lebay D'easycreative
Lelaki di hadapanku sekarang masih tetap diam. Aku memanggilnya malaikat, karena dia yang menarikku untuk keluar disaat aku terjatuh dalam lubang yang paling dalam. Jika di dinding katedral ada lukisan seorang malaikat, maka malaikatku adalah seperti itu. Bukan aku orang yang tidak taat beragama, dan aku juga tidak suka mencampuradukkan agama. Tapi, jika aku boleh menggambarkan malaikatku maka seperti itulah dia.
Malaikatku tetap diam. Hampir mati aku mendesak dia untuk menjawab, tapi dia memilih diam.
“Bagiku, diam bukan jawaban! Karena orang bisu saya bisa menggunakan seluruh tubuhnya untuk memberi isyarat sebagai jawaban!”
“Aku telah membuatmu membenci cinta. Sama seperti saat kau merobek lembaran kertas bertuliskan namaku! Apa kau masih ingat kalau X+Y=1?”
Aku menengadah menatapnya. Bagaimana aku bisa lupa, X+Y=1! Ya, itu adalah satu paket yang tidak dapat dipisah. Aku adalah x, bersama hatiku y, maka itu akan menjadi sebuah cinta. Aku mengangguk. Dia menatapku kembali.
***
Hujan malam ini tak berarti apapun jika dibanding dengan hujan kemarin. Dan sama seperti kemarin, setelah aku mereaksikan berbagai larutan, aku harus menelan kembali pil pahit berisi kegagalan. Ini bukan kegagalanku yang pertama untuk mengenyahkan virus itu. Ini adalah kegagalan setelah pengorbanan harga diriku.
Kegagalanku untuk memusnah cinta membuatku tahu sesuatu. Bahwa aku harus mengambil hati dari lemari penyimpanan kadaver lagi. Cinta bagiku adalah sebuah penyakit, karena cinta tidak pernah membuatku merasakan kesenangan, kecuali sekejap mata berkedip dan sekarang aku mulai membenci cinta. Aku ingin memusnahkan cinta!
“Maaf jika aku telah melukaimu terlalu banyak. Aku ingin menggantikan angka satu pada persamaan itu, namun aku tidak menyangka bahwa aku harus mengenyahkan variabel y terlebih dahulu”
Itulah kalimat terakhir yang aku dengar hari ini. Saat tetes terakhir larutan potasium klorida yang aku buat tumpah ruah di preparat, saat itulah aku harus melihat malaikat yang mengepakkan sayap untuk terbang.
“Kau tau, bahwa sepertinya aku telah menemukan cintaku. Aku ingin kau mencoba mencari cinta itu juga. Agar kau tidak perlu mengorek lemari kadaver untuk mengambil lagi bagian hati yang kau simpan”
Aku melihat bagian preparat yang ditumpahi potasium klorida itu. Itu ingin melakukan euthanasia, agar aku bisa mematikan hatiku yang terjangkit penyakit cinta. Ternyata dia bereaksi dengan cepat dengan sampel pada preparat.
“Maukah kau ikut denganku?? Telah lama kau berada di ruangan sempit penuh bahan-bahan kimia ini, apa kau tidak bosan?”
Aku berjalan kearahnya sambil melepas masker dan sarung tangan. Apalagi yang aku punya selain ruangan sempit bernama laboratorium ini. Cinta? Dia yang mengajariku cinta adalah orang yang membuatku menjadi gila bereksperimen. Sekarang dia menanyakan apa aku bosan?
“Jawablah cepat, waktuku tidak banyak lagi. Keretaku akan berangkat sebentar lagi, saat panggilan itu datang, mungkin aku tidak akan pernah melihatmu lagi”
Samar-samar aku mendengar suaranya. Hujan ternyata mampu menenggelamkan suaranya. Aku berjalan menuju lemari pendingin penyimpanan kadaver, mengambil bagian hati yang terakhir.
Senin, 29 November 2010
Cintaku Terdiferensialkan oleh Hujan

Banyak yang menangis hari ini! Hingga langitpun turut meneteskan air mata melihat aq meratapi hati yang tercabik. Aku tidak yakin kalau dia dapat membaca isyarat yang ditunjukkan oleh awan hitam yang membawa titik hujan. Hingga hujan berhenti dan langit dihiasi pelangi, dia masih saja mengerjakan pekerjaannya. Tidak pernah bisa membaca isyarat yang kuselipkan.
Kadang aku berpikir bahwa cinta itu bisa dikalkulasikan. Layaknya rumus-rumus dalam buku kalkulus. Jika ditarik pada bidang cartesius, maka garis x dan garis y akan bertemu pada angka nol. Bukankah sekarang kita baru saja memulai?? Aku adalah x yang disapa oleh y hingga memulai takdir dari angka nol.
Kau tau, bahwa hari ini dosenku sedang mengajar tentang deferensial dan integral. Jika saja aku tidak memasukkan cinta kedalamnya, mungkin buku setebal 300 halaman itu sudah aku campakkan ke dalam tong sampah, dan aku langsung kabur dari kelas dengan alasan permisi ke kamar mandi. Aku baru sadar, kalau cintaku ini terdiferensialkan dari pandangan mata menuju hatiku. Jantungku berpacu secepat kuda pacuan yang diperjudikan. Tapi sayangnya, lagu jantung kita sangat berbeda. Degupan jantungku bertanda petaka, degupan jantungnya bertanda senyuman.
Aku sedang mencoba untuk mengenyahkan atom-atom penyusun sebuah cinta. Tiap unsur yang membentuk ikatan molekul diantaranya aku uraikan hingga dia tidak bisa lagi berikatan satu sama lain. Karena yang aku tau, senyawa alamiah bernama cinta itu adalah racun yang mampu mengenyahkan organ-organ tubuhku.
Kemarin aku sedang meracik antibody untuk sebuah virus bernama cinta. Selama seharian penuh aku berada dilaboratorium, meramu berbagai ramuan. Telah aku coba mencampurkan Asam Sulfat yang telah aku encerkan dengan strontium nitrat, dan aku berhasil menciptakan endapan putih yang sama sekali tidak bereaksi dengan virus itu. Ternyata aku gagal. Bahkan Sesuatu yang berharga pada yang hampir aku genggam, ditiup angin begitu saja!
Aku mencoba membagi hatiku menjadi dua bagian. Bagian pertama aku simpan rapi di rak pendingin, agar nantinya bisa aku pakai lagi saat aku membutuhkannya. Sedangkan bagian keduanya, aku bagi menjadi empat. Seperempat pertama untuk keluargaku, seperempat kedua untuk keluargaku, seperempat ketiga untuk sahabatku, dan sepertempat terakhir untukmu. Namun siapa sangka kalau seperempat terakhir harus aku akarkan lagi supaya dia menjadi tidak terhingga. Sehingga benda merah dalam tubuhku kini semakin pekat, oleh darah! Dan oksigen yang masuk kerongga hidungku membaur dengan Hb di sana. Aku bersyukur dia semakin pekat, karena dia bisa membuat organ penting lainnya berdegub dengan cepat saat aku melihat seorang malaikat.
"Aku menagih janjimu. Bukankah dari mulutmu pernah terucap bahwa kita sepasang kekasih yang diciptakan dari surga, dan itu tidak akan pernah berubah, walau roda waktu terus berputar! Aku kembali menagih semuanya".
Hujan malam ini tak berarti apapun jika dibanding dengan hujan kemarin.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Kawan, jawab pertanyaanku.
Kawan, coba kau dengar degub jantungku hari ini. Apakah iramanya sama seperti irama jantungnya?? Apakah gerakanku sama seperti gerakan bulan yang ditutupi oleh mentari hingga bumi menjadi gelap gulita. Kawan, jangan kau diam seperti itu. Aku menunggu mulutmu memberiku sebuah pernyataan. Apapun itu.
Kawan, aku tidak menginginkan dia datang kembali, dengan sejuta panah asmara dan setaman mawar yang berjumlah seribu satu.
Kawan, dulu aku pernah menantang Tuhan. Kau tau apa yang aku katakan??
"Aku tidak butuh cinta, aku bisa memusnahkan cinta. Aku ingin membakarnya dan membuang abu yang bernama cinta ke samudra atlantik!"
Kau tau kini aku mendapatkan apa??
Aku mendapatkan kembali percikan api cinta itu. Hatiku dan seluruh organku lumpuh seketika, tidak bisa bergerak saat angin menghembuskan api cinta tepat mengenai jantungku ini. Hingga dia membuat ritme sesuka hatinya.
Kawan, jawab pertanyaanku. Apa yang harus aku lakukan??
Aku mencintai seseorang yang bahkan aku tidak tau apakah dia dihadiahkan Tuhan untukku. Seperti Hawa yang dihadiahkan Tuhan kepada Adam untuk menemaninya yang kesepian di Surga. Hingga mereka dilempar ke dunia karena kesalahan, dan mereka bersama hingga akhir hayatnya.
Kawan Jawab pertanyaanku. Apa yang harus kulakukan??
Rabu, 27 Oktober 2010
Sang Putri cantik
ini cucu yang paling kagak berbakti sedunia, ngejenguk apa ngajak berantem sih sama si engkong, sama si embah. Dua kakek hightek ini geleng.geleng kepala aja. yaiya, soalnya dia kan dunia maya, mana bisa ngomong. wkwkwkwkwkwk #Brak! dilempar tempayan sama si meong. Makin lama, majikan ogut yang satu ini kok makin tambah stres ya. dasar kucing sialan, pake acara ngatain lagi. #Srak! pukul si meong pake gagang sapu ijuk. Lariiiiiiiii....
huh..hah..huh..hah...
capek juga maen tom and jerry sama si meong. napas saya belum disambungin ini. istirahat dulu, nanti maen tom and jerry lagi lah. Fhuih. ngelap keringat pake ujung handuk. Oke lah kalau begitu, mari kita mulai bercerita.
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang cantiiiiiiiiiiiiiiiiiik jelita. Dan sang putri hidup dikelilingi dayang-dayang di sebuah kastil yang sangaaaaaaaaat megah. Walaupun dia adalah putri satu-satunya pemegang tahta, tapi sang putri masih saja merasa kesepian, karena raja dan ratu hanya membolehkannya keluar pada malam hari. Suatu hari, saat sang putri itu sedang berjalan-jalan di taman bunga mawar istana, sang putri melihat seorang rakyat jelata yang sangaaaaaaaaaaat lusuh, wajahnya kotor dan pakiannya tidak menunjukkan orang yang terhormat. Pemuda itu sedang menggali disekitar taman bunga raflesia yang terpagar disudut taman bunga mawar. Sang putri merengutkan alis, dalam hatinya dia berkata Buat apa anak itu menggali bunga yang paling bau sedunia.
sang putri menghampiri pemuda lusuh itu, sangking sibuknya menggali, pemuda lusuh itu tidak sadar kalau ada orang yang memperhatikan pekerjaannya. tak lama kemudian sang putripun menyentuh pundak pemuda itu. Karena sedang serius untuk menggali, pemuda itu menepis tangan sang putri. Putri itu kembali menyentuh pundak si pemuda, lagi-lagi pemuda itu menepis kembali tangan yang menyentuh pundaknya.
"mas...mas.. lagi ngapain mas.. hihihihihi.."
Pemuda tersebut langsung membalikkan badannya begitu mendengar suara dibelakangnya. "waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..."
_sekian dan terima kasih_
Kamis, 09 September 2010
Lebaran yang Hilang
Tapi, lebaran kali ini beda banget sama lebaran sebelumnya. Malam lebarannya juga beda. Entah karena emang jaman udah berubah, dari jaman kuda gigit daun jadi jaman kuda gigit besi, atau emang lagi kangen aja sama suasana lebaran 15 tahun silam?? who knows??
Yang jelas malam lebaran semalam itu seperti bukan malam lebaran. Lebih meriah dari malam tahun baru, dengan petasan dan juga mercon yang menghiasi langit malam. Coba kalo mati lampu, wuuuiiiiih gila aja tuh. Cahaya petasannya makin keliatan di langit hitam. Dan yang mengiringi petasan yang asik ngedar.ngedor sampai kepalaku juga sakit karna dijatuhi sisa-sisa bubuk petasan itu (plis deh, sempat jilbab aku bolong, aku cari yang bakar mercon itu). Cuma bisa garuk-garuk kepala aja, sambil nutup kuping sangking nggak tahan sama bunyi petasan yang dibakar pas disamping kuping saya. Mana bau mesiunya itu lho, kagak tahan saya. Awas ya, seminggu lagi masuk Lab, aku bedah itu petasan, kayaknya kebanyakan diisiin potasium deh, makanya meledak meleduknya sampai bikin jantungan. Geleng-geleng kepala saja deh saya.
Trus yang takbirannya kemana?? tenang sodara-sodara, masih dengan khas malam lebaran, apalagi di Aceh. Kalo nggak ada pawai takbir, wuuuuuuah, beneran kagak lengkap deh itu malam lebaran. hahaha. Pawai takbirnya meriah banget euy, banyak banget masyarakat Aceh yang nunggu di Simpang Lima, sampe persimpangan itu berubah jadi lautan manusia tadi malam, untuk nungguin pawai takbir lewat. Tapi pawai takbirnya bikin sedih, kagak sebanyak lebaran-lebaran sebelumnya. Cuma ada Beberapa mobil hias yang tentunya hiasannya itu kereeeeeeeeeen banget, ada mesjid raya, ada replika masjidil haram, banyak deh macamnya. Alhamdulillah tetep memuaskan yang nonton.
nah, siapa lagi yang ngebuat rusuh kecuali anak orang yang baru kembali untuk merayakan malam lebaran di Banda Aceh. Yap, tadi malam nonton pawai itu ngak sendirian. Gila aja nonton pawai sendirian, kagak seru euy!! Jadi kita semalam itu ada enam orang, Aku, Muha, Sari, OoL, Lia, dan Kur. hehehe.. Jadinya memang menggila deh itu malam dengan suara takbir, jepretan bliz kamera digital, suara petasan yang bikin gedar-gedor jantung.
DIbalik itu semua, ada sesuatu yang hilang di malam lebaran kali ini. Hingga detik aku nulis blog ini, aku belum nemu apa yang hilang di relung hati aku (ciiiieeeeee... kata-katanya itu, kagak nahaaaaaan!!), moga aja nanti aku bisa tau, apa yang hilang dari kepingan hati aku itu. :D
selamat tinggal Ramadhan.. Aku sangat merindukanmu.
semoga aja, Rmadhan tahun depan aku masih di kasih umur yang panjang, umur yang berkah, dan juga kesehatan untuk kembali bertemu dengan Ramadhanku. Syawal, bimbing aku untuk kembali seperti saat ibu melahirkanku.
Kamis, 26 Agustus 2010
Surat dari Sang Kekasih
Surat dari Sang Kekasih
author: Nurul Sinyak Lebay
Sudah lewat dari tengat waktu yang dijanjikan tapi dia belum juga tampak. Dan dia tidak pernah datang. Padahal matahari sudah hampir berada di ufuk barat, namun perempuan itu belum beranjak tadi bangku di bawah pepohonan rindang itu. Taman ini masih kosong, lepas magrib mungkin baru ramai oleh pengunjung yang berusia dibawah dua puluh tahunan. Lampu dan juga bangku yang disusun dan ditata sedemikian rupa membuat tempat ini seperti kembali ke zaman kaphe penjajah di tanoh Aceh, tapi dia tetap menikmatinya. Menikmati semilir angin yang sengaja mempermainkan helaian kain penutup rambutnya.
Siang tadi tanpa sengaja perempuan itu mendapati sepucuk surat dari dalam novelnya. Amplop dan kertas yang sudah menguning, dan tulisan yang mengembang tanpa tau tanggal berapa surat itu ditulis. Bahkan tidak ada sebuah namapun yang terukir dalam kertas itu kecuali nama kekasih.
Wahai kekasihku, ini adalah surat yang ketujuh puluh yang aku tulis dan bisa aku berikan kepadamu, mewakili enampuluhsembilan surat lain yang sampai kini masih terselip di beberapa buku dan novel yang ada di dalam rumahmu, tapi kau tidak pernah tau.
Taukah kau wahai kekasihku, sesungguhnya telah lama aku menyimpan rasa padamu, tapi aku lebih memilih melakoninya sendirian sambil menyelipkan puluhan surat dan memberimu setaman bunga mawar yang dikirim kurir bunga sepanjang hari. Bukankah cinta yang tidak diketahui oleh orang lain, adalah sebuah cinta yang amat dahsyat?? Cinta yang membuatku bagaikan majnun yang selalu mengagumi laila kekasihnya, walaupun Laila berulang kali membuang piring makanan sang majnun hingga dia harus berkali-kali mengantri untuk mendapatkan makanan saat pesta dirumah Laila.
Kau tau, aku tertawa melihatmu kerepotan dengan sebuket mawar yang setiap pagi hadir di depan rumahmu?? Hingga tak ada sudut rumah bahkan kamarmu yang tidak terhiasi oleh vas bunga berisi mawar. Dan setiap dua hari sekali kau harus bersungut mengumpulkan mawar yang layu sebelum akhirnya kau membuat taman dengan seribu satu mawar disana.
Lakon cintaku hanya sampai disini hai pujaanku. Ternyata Maha Pencinta telah menunjukka
nku cinta yang abadi. Goresan diatas kertas ini menjadi pengakhir lakon cintaku di dunia ini. Tapi, aku tetap membawa cinta yang tak seorangpun tau selamanya, dan sang pemilik cinta memelukku dengan cinta-Nya. Bukankah ini indah??
Sabtu, 21 Agustus 2010
Kunanti kau di Gapang
Sudah jauh dari jatuh tempo, orang yang ditunggunya belum kunjung datang. Hari ini sudah seminggu dari tanggal jatuh tempo perjanjian mereka. Perempuan itu masih saja menghitung mundur tanggal di kalendernya. Sesekali, debur ombak memalingkannya dari kalender kecil ditanganya.
Empat belas angka telah disilang dari angka di kalendernya. Hatinya yang mulai gusar tak bisa diredam oleh debur ombak pantai gapang. Sesaat yang lalu dia baru saja selesai menikmati keindahan taman laut rubia sore hari. Tapi hatinya masih belum bisa neredam gemuruh dan rasa cemasnya. Telah lewat dari jatuh tempo yang mereka sepakati. Langit jingga berganti kelabu, perempuan itupun langsung masuk ke kotex menimpa kasur yang dijadikan pelampiasan mimpinya malam ini.
Jumat, 20 Agustus 2010
Aku memesan tiket ke Neraka
Jalanan simpang lima menjadi padat. Beberapa orang mengerumuni tubuh indah yang bersimbah darah. Lelaki tua yang telah kembali dari pengabdiannya siang ini turut melihat jasad yang terbaring di tengah teriknya aspal. Pikirannya masih melayang beberapa saat yang lalu, di bawah deru kendaraan dan asap jalan raya.
“Wahai Anakku, kenapa engkau memakai pakaian yang merusak pandangan seperti itu??” Tegur sang bapak lembut. Perempuan tak berbusana muslimah disampingnya tersebut mendelikkan matanya, parasnya yang cantik seketika berubah.
“Siapa kamu?? Apa urusanmu mengaturku berpakaian?? Kamu bukan siapa-siapa aku, dan bukan hakmu untuk mengaturku berpakaian!” ujarnya murka.
“Astaghfirullaaah, bukan itu maksudku anak muda. Apa kau tidak takut kalau Allah memasukkanmu ke dalam neraka??” bapak tua tersebut hanya bisa mengelus dada, mencoba bersabar mendengar teriakan anak muda disampingnya. Perempuan dengan rambut tergerai itu merongoh ke dalam tasnya, mengeluarkan handphonenya keluaran terbaru dari dalam tasnya.
“Ini handphoneku, telfonlah Tuhanmu! Telfon Allah!! Bilang padanya aku memesan tiket untuk wisata ke neraka!” suara kasarnya menyembur.
Raut muka lelaki tua itu berubah sendu. Hatinya seolah menangis melihat perempuan yang menyerupai anaknya itu. Tidak diperdulikan lagi perempuan itu, seolah tidak ada nasehat yang bisa masuk di dalam hatinya. Beberapa saat yang lalu dia telah memesan tiket ke neraka.
PS: ini Flash fiction saya yang pertama. xp
terinspirasi saat mendengar ceramah di Mesjid Raya Baiturrahman malam 11 Ramadhan 1431 H.
mohon komentarnya.

