Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2014

Surga Belanja Malaysia

Di postingan saya terdahulu banget (udah berapa tahun yang lalu yak?) tentang jalan murah ala backpaker ke malaysia. Kali ini saya mau cerita tentang tempat belanja yang sering saya kunjungi kalau ke sana.

Tentunya, datang ke negeri Jiran rasanya belum lengkap kalau tidak berbelanja di sana. Terlebih, berbagai merek terkenal dunia bisa ditemukan di mall-mall terkenal di berbagai distrik di negara tersebut.

Yah sebut saja salah satu mall termegah, Suria KLCC yang terletak di lantai dasar menara kembar di negara tersebut. Berbagai merek terkenal dunia, mulai dari tas, sepatu, baju, jam tangan, hingga parfume bisa ditemukan di sana. Tentu saja dengan harga yang sangat-sangat mengguras kantong untuk penyandang status kalangan menengah di republik tercinta.

Tapi tenang saja, bagi yang hobi berbelanja masih ada banyak tempat yang patut dikunjungi kalau kalian ingin membawa berbagai barang dengan kualitas bagus dan juga relatif murah. 

Sungai Wang
Sungai wang merupakan salah satu tempat berbelanja yang paling digemari oleh turis. Baik dari Indonesia, khususnya Aceh ataupun turis-turis mancanegara lainnya. Di sungai wang ini, mereka juga menjual berbagai macam fashion dengan harga dan kualitas yang bagus. 

Sama seperti Suria KLCC, barang yang dijual disini rata-rata punya merek terkenal dan ternama di dunia. Ada juga beberapa produk atau merek buatan malaysia yang juga di jual disini. Dan harganya, relatif murah.  

Bagi kalian pencinta fashion dari negeri gingseng, Sungai wang menjadi salah satu tempat yang wajib untuk didatangi. berbagai macam model baju ala artis-artis korea itu bisa di dapat di lantai 6 di mall satu ini. Mulai dari gaun, kemeja, croptee, blazer, hingga gaun bisa kalian pilih sesuai dengan selera masing-masing.

Untuk harga yang ditawarkan juga bervariatif. Jika kebetulan kalian beruntung, deretan toko di kawasan Hongkong stuff (sebutan lantai 6 di Sungai Wang) itu akan berlomba-lomba untuk memberikan diskon. Saya pernah mendapatkan diskon sebesar 60-75% untuk baju yang dipajang di salah satu toko. 

Fahrenhait
Nah, bagi orang Indonesia, khususnya Aceh, ke Malaysia tanpa membawa pulang sepatu bermerek Vinci berarti belum ke Malaysia. Dan harganya itu memang jauh dibawah harga pasar di Banda Aceh sendiri. Karena jika brand tersebut mengeluarkan produk baru, otomatis produk lamanya itu akan didiskon hingga 70%, tergantung berapa lama produk itu.

Aku kemarin dapat sepatu diskon 50%, yah bukan model lama sih. Soalnya pas aku pulang ke Banda Aceh dan menjelajah pasar nemu satu toko yang menjual sepatu yang aku beli, sama persis. Cuma harganya jauh banget. Ibaratnya, kalau aku beli Rp 100.000 (diskon 50% pake ringgit), di sini malah jadi Rp 300.000. =...=

Turun aja di Station Bukit Bintang, di sini surganya para shopaholic yang ingin berburu barang-barang branded. Turun dari station, ada puluhan mall yang bisa kalian datangi, salah satunya Fahrenhait ini. :D


Pettaling Street
Pettaling Street ini adalah China Town-nya di Malaysia. Di sini, kalian bisa mendapatkan pakaian dengan harga gila-gilaan. Meskipun bukan branded alias baju biasa, bagi para korean style bisa langsung ke mari. Karena ada salah satu toko yang khusus menjual baru-baju model korea di sini. Tentu saja ramah bagi kantong para backpaker. Saat kemari, aku dapat baju dress dengan harga RM 35. Lumayan kan? hehehe.

Kalau kalian datang agak sorean, alias pukul 17.00 waktu setempat, mulai deh sepanjang pedistrian di jalan Petalling itu dipenuhi sama para penjual, ada tas berbagai macam model, sepatu jenis nike, reboke, dan lain sebagainya. Yah harus diakui itu bukan originalnya alias hanya KW (tapi kalau teliti dapat juga loh yang originalnya) tapi puas deh belanjanya di sini. Hehe.

Dari KL Center, jika naik RLT kalian bisa naik line jurusan pasar Seni. Nah disini, kalian hanya perlu berjalan kaki sekitar 5-10 menit untuk ke Pettaling Street. Di sepanjang jalan, kalian bisa merasakan aura-aura pecinaan di Malaysia. 

Yang ingin naik bus juga bisa kok, kalau naik dari station mesjid jamik, kalian hanya perlu mencari bus dengan jurusan pasar seni (aku sudah lupa busnya itu nomor berapa). Tempat pemberhentian bus dan RLT untuk jurusan pasar seni itu sama, jadi kalau RLT di bagian atas, bus ya di bawahnya. Jalannya juga sama. hehehe

Pasar Seni
Bagi pecinta barang-barang khas, pasar seni ini tempat tujuannya. Yah ngak khas sekali sih, tapi buat yang mau beli coklat khas malaysia (ada juga ding khasnya), para pecinta coklat bisa langsung beli dengan harga murah di sini. Yah kalau ke pabrik rada jauh kan? langsung aja kemari, bisa belanja juga karena ada barang-barang lain yang dijual seperti kain, baju-baju, dan barang kebutuhan lainnya.

Rutenya sama saja dengan jalur ke Pettaling Street, kalian hanya perlu berhenti di station Pasar Seni. Naik RLT atau bus sama saja, cuma kalau bus langsung nemu pasar seni duluan. hehehe


bersambung ke postingan berikutnya yaa... hehehe

Senin, 06 Januari 2014

Taman Cerita #9thnTsunamiAceh

Ini sebenarnya postingan yang udah telat. Tapi ngak apa-apa deh, daripada ngak ngeposting sama sekali. Hehehe (tapi sebenarnya udah diposting tapi ngak mau kepublsih =.....=)

Tanggal 26 Desember 2013 lalu tepat sembilan tahun pascagempa bumi dan tsunami Aceh. Jadi anak-anak muda Aceh, selain acara yang dibuat sama pemerintahan, berkumpul dan ngebuat acara di Museum Tsunami Aceh. Kumpulan anak muda dari @Bandaacehkreatif ini duduk dan ngebuat serangkaian acara pentas seni seperti tari kreasi, pembacaan puisi, didong, saman, dalae khairat (zikir dalam bahasa Aceh), juga kisah dari salah seorang korban tsunami Delisa.

Disana juga ada taman yang disulap dari pohon bambu yang dijejerkan dan digantungkan kertas. Di sana tertulis banyak harapan-harapan masyarakat untuk kelangsungan Aceh kedepan. Keinginan masyarakat untuk membangun Aceh dan unek-unek yang ingin mereka sampaikan kepada orang lain.

Taman cerita yang digagas sama anak-anak Indobarca Aceh ini mengambil konsep festival tanabata di Jepang. Jadi ngak heran jika kertas-kertas berwarna ditempelkan di pohon bambu.

Dan aku juga ikutan nulis harapan di pohon itu. Hehehe. Meskipun panitia, tapi ngak masalah kan ikutan narsis sama yang lain. Hehehe

Ngegantungin kertas harapan. :D
that my wish. 
Anak-anak SMK dan SMA12 yang aku rayu buat ikutan nulis harapan
Ini yang narsis minta dipotoin. Ampun deh. =....=

Minggu, 03 Februari 2013

Mengunjungi Putri Pukes [Ke Gayo part III]


“Mau lihat manusia berubah jadi batu?” ujar tukang becak yang mengantar Saya mengitari pusat wisata di kota tengah pegunungan ini. Anggukan tanda persetujuanpun mengantarkan saya ketempat tujuan. Jam menunjukkan pukul 16.00 wib saat becak membawaku menuju tempat manusia batu.

Angin pegunungan yang berhembus cukup membuat saya harus  merapatkan jaket untuk menghangatkan diri. Tidak begitu jauh dari pintu gerbang bertuliskan ‘Wisata Danau Lut Tawar’, deretan para penjual jajanan pun terlihat berjejer di seberang danau. Setelah menempuh tigapuluh menit perjalanan, becak mesin itu berhenti di sebuah gua.

Gua tersebut menyimpan sosok manusia yang berubah menjadi batu. Rasa penasaran membuat aku menginjakkan kaki untuk masuk ke dalam gua. Namun, untuk masuk dan melihat itu ternyata tidak gratis. Aku membayar Rp 4000,- untuk tiket masuk wisata ke dalam gua.

Mulut gua tersebut tidak muat untuk tiga orang yang masuk sekaligus. Para pengunjung lain yang datang bersamaan harus berbaris untuk bisa masuk ke dalam gua. Saya kembali menapaki tangga batu untuk turun masuk melihat manusia batu tersebut.

Saat masuk dalam gua yang berukuran kira-kira 10x30 meter tersebut, Aku langsung disuguhi pemandangan relief gua yang berbentuk secara alami tersebut. Ditengah gua terdapat sumur yang akan penuh selama tiga bulan sekali dari mata air pegunungan. Tak begitu jauh dari sumur, terdapat sebuah patung yang merupakan sesembahan masyarakat pada zaman dulu kala.

Para pemandu mengarahkan kami untuk turun lebih dalam lagi untuk melihat manusia batu. Letaknya agak lebih masuk, menepi ke sebelah kiri dari sisi gua itu sendiri. Diterangi dengan lampu pijar yang sengaja dipasang, membuat wisatawan bisa melihat langsung batu yang berasal dari wujud manusia itu.

“Ini adalah putri pukes. Dia berubah jadi batu karena melawan titah orangtuanya,” ujar Abdullah.
Abdullah pun menuturkan kisah Putri Pukes untuk menjawab rasa penasaran para pengunjung yang datang ke sana. Alkisah Putri Pukes adalah seorang yang tinggal di sebuah kampung bernama Nosar. Dia pun menikah dengan pemuda dari kampung seberang, Samar Kilang (saat ini masuk Kabupaten Bener Meriah). “Dalam adat perkawinan dulu, jika seorang pengantin wanita hendak pergi mengikut suaminya, maka dia tidak boleh kembali lagi kepada orangtuanya kecuali sudah mendapatkan keturunan,” tuturnya.

Maka, saat iringan pengantin membawa sang putri meninggalkan rumah dan kampung halamannya, kendati Putri Pukes itu adalah anak satu-satunya, sang ibupun berpesan padanya agar tidak menoleh kebelakang. “Jika kau hendak pergi ikut suamimu, aku ijinkan. Tapi jangan menoleh kebelakang,” ujar Abdullah melafalkan ucapan ibu putri pukes.

“Singkat cerita, saat rombongan sang putri sudah menyeberangi danau, sang putripun teringat akan keluarganya. Karena sangat sedih harus meninggalkan ibunya, dia menoleh kebelakang. Lalu datanglah petir dan badai, sehingga para ketua rombongan menyuruh mereka berlindung di dalam gua ini,” sambungnya.

Setelah badai berhenti, rombonganpun keluar dari gua, tapi mereka tidak mendapatkan Putri bersama mereka. Mereka panik dan mencari putri keseluruh penjuru gua, dan mendapati Putri yang terduduk di dalam dengan badannya yang telah mengeras seperti batu.

Sedangkan suaminya, ujar Abdullah juga berubah menjadi batu. Namun wujudnya jauh dari gua sang putri. “Suaminya juga berubah menjadi batu karena permintaannya sendiri. Dia merasa tidak ada gunanya lagi kembali ke kampung, sedang istrinya sudah menjadi batu. Suami Putri Pukes itu jauh diatas gunung, sekitar 200 meter dari sini,” jelasnya.

Sudah puluhan, mungkin ratusan kali Abdullah menuturkan kisah putri pukes ini pada wisatawan yang berganti tiap harinya. Abdullah adalah penduduk asli dan pewaris gua pukes dari leluhurnya. “Saya sudah dari kecil disini. Ini adalah tanah keluarga saya, jadi saya coba untuk melestarikannya,” ungkapnya.

Dia sendiri sudah menjaga gua Pukes ini sejak tahun 1991. Sedikit demi sedikit, uang yang dia dapat dari tiket masuk para pengunjungpun dipergunakan untuk biaya hidup keluarganya serta mempercantik tampilan muka gua.

“Uangnya saya belikan semen, saya bangun ini biar cantik. Ini kendi, relief tangan dan kaki, saya yang buat. Jadi kalau tempat ini cantik juga banyak pengunjungnya,” jelasnya sambil tersenyum.
Abdullah mengatakan meskipun tempat ini menjadi salah satu objek wisata di daratan tinggi Gayo, namun pemerintah daerah dibawah dinas kebudayaan dan pariwisata tidak memberikan bantuan untuk merenovasi tempat ini.

“Tidak ada bantuan dari pemerintah. Ini semua murni saya kelola. Bangunan ini, semua saya bangun dari uang saya,” katanya.

pernah dipostingkan di The Globe Journal

Berkunjung ke Daratan Tinggi Gayo [part I]



Beberapa waktu lalu, admin @iloveaceh mengunjungi daratan Takengon. Jadi teringat saat berkunjung ke tempat penghasil kopi di Aceh ini. Awal November 2012 lalu, saya pergi ke sana bersama mama saya. Bertolak dari Kota Bireueun pukul 08.00 Wib, kami naik angkutan antar kota, L300 menuju ke Takengon.

Melewati jalanan sempit dengan yang dipagari oleh gunung dan jurang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Belum lagi hampir sepanjang perjalanan saya seperti berjalan di atas badan ular, karna jalanan di sana berkelok-kelok layaknya badan ular.

Tepat tengah hari, Saya dan Mama sampai di daratan tinggi Gayo tersebut. Di sambut hawa dingin yang sangat berbeda dengan cuaca di Banda Aceh, membuat saya segera mengeluarkan jaket dari dalam tas. Langsung memakainya. Untuk hari itu pakai sepatu kets, sehingga kaki saya terlindung dari hawa dingin. Brrr…

Tempat yang pertama kali kami kunjungi saat sampai ke sana adalah Mesjid Agung Takengon. Soalnya pas sampai sudah mulai zuhur, jadi mamak menyuruh nyari tempat untuk shalat dan beristirahat sejenak. Jadilah kami mencari kendaraan di dalam kota. Dan lagi-lagi  kendaraan yang paling diminati adalah... Becak mesin. Hahahaha.

Becak mesin menjadi pilihan karna harga sewanya murah. Alasan klise kali ya karna ngak ada motor untuk berkeliling kota di atas awan itu. Hahaha. Lagipula, naik becak mesin sama halnya seperti naik motor. Bisa melihat alam sekitar selama mengelilingi kota. Pun masih bisa celingak-celinguk untuk ngambil beberapa foto pemandangan di kota tersebut.

Oke, lanjut lagi! Setelah bernegosiasi dengan abang becak, menentukan harga dan menentukan rute wisata yang akan dituju. Akhirnya, si Abang becak membawa kami ke Mesjid Agung di Takengon. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pangkalan L300 tempat kami turun. Tidak sampai sepuluh menit, kamipun sampai di sana.


Mesjid itu hampir sama dengan Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. Sama-sama mempunyai halaman yang luas. Meskipun lebih luas mesjid di Banda Aceh sih, tapi cukup luas untuk mesjid-mesjid lain di Takengon. Mesjid Agung itu terletak di dekat kantor bupati. Dari sebelah kiri (saat masuk ke halaman mesjid) saya bisa melihat pemandangan kota takengon dan gunung yang bertulis 'Gayo Highland'. Keren banget deh!

Setelah menunaikan shalat Zuhur, saya dan mama langsung mencari tempat makan. Lapar! Kamipun memilih rumah makan yang berada tepat di seberang jalan mesjid tadi. Yang unik di sini adalah jangan pernah memesan minuman dingin atau minta es pada penjual makanan. Karna memang di daerah ini tidak menyediakan minuman dingin dan juga es batu. Jadi minuman atau apapun memang disajikan secara hangat-hangat kuku. 

Waktu itu, penjual toko sempat tersenyum saat saya memesan teh dingin. "Ngak ada es dek," begitu jawabnya. Sayapun heran. "Ini udah dingin, apalagi minum dingin. Tunggu aja bentar lagi, dingin sendiri," ujar mama. Iya juga sih. Ngak lama setelah diletakkan di meja, air teh hangatpun berubah jadi teh dingin. Namanya juga ke tempat dingin, ngapain es lagi, ujarku dalam hati.

Pukul 14.00 Wib, si Abang becak yang sudah dicarter tadipun menjemput kami di mesjid tadi. Sesuai perjanjian, kami membayar Rp 60.000,- untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata di sini. Destinasi pertama adalah Pemandian Air Panas yang terletak di Kabupaten Bener Meriah, itu artinya kami kembali ke belakang. Hahaha..


Karena selama perjalanan naik mobil saya tidur, jadilah kepala saya mundur ke belakang. Pergilah kami ke Pemandian Air Panas. Di sinilah saya bisa melihat kebun-kebun kopi sepanjang perjalanan ke tempat tujuan. Tanaman kopi itu ditanam di kebun yang terletak di pinggiran jalan.

Perjalanan ke pemandian air panas itu membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Dengan kecepatan kurang tau juga sih abang becak ngebut apa ngak. Yang jelas pegunungan dan jurang yang dalam banget menghiasi perjalanan hari itu.

------bersambung---

Senin, 28 Januari 2013

Enam Cara Menghabiskan Waktu di Banda Aceh

Bagi kebanyakan orang, libur panjang akan dimanfaatkan untuk pergi ke luar kota. bepergian ke tempat lain untuk bisa menikmati suasana baru dan juga menjauhkan penat. Tapi tidak semua orang beruntung bisa merencanakan liburan yang mereka inginkan. Sebut saja anak kuliah, mereka pasti masih harus tinggal di daerah mereka sampai liburan usai, padahal sebentar lagi libur tahun baru menyambut kita semua.

Tapi tidak perlu takut, ada banyak tempat di Banda Aceh yang bisa dikunjungi saat sedang liburan. Mungkin tempat-tempat ini bisa menjadi contekan dan inspirasi untuk menghabiskan waktu di kuta raja.

1.Mengunjungi Tempat Wisata Tsunami
Tsunami memang pernah meluluhlantakkan Aceh, khususnya Kota Banda Aceh. Hampir semua infrastruktur di kota ini lumpuh saat bencana alam 2004 silam. Bagi Anda yang ingin menyaksikan kembali tragedi tersebut, Museum Tsunami menjadi pilihan yang tepat untuk dikunjungi.

Bangunan yang didesain oleh M. Ridwan Kamil ini dibangun untuk mengenang gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 lalu. Dalam bangunan berbentuk kapal ini, Anda bisa menyaksikan bagaimana peristiwa dahsyat itu terjadi.

Tentunya lewat film yang diputar di ruang audio visual serta foto-foto yang dipajang di dalam museum. Selain itu, ada juga bisa melihat miniatur tsunami yang menggambarkan keadaan sesudah gempa hingga tsunami terjadi.

Tidak hanya Museum Tsunami, Anda juga bisa berkunjung ke kapal PLTD Apung di kawasan Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Demikian pula dengan Kapal di Atas Rumah di kawasan Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Dua objek wisata ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar Aceh.

2. Bersepeda di Jalan Kota
Menelusuri kota Banda Aceh dengan sepeda juga menjadi pilihan yang menyenangkan. Selain membuat tubuh lebih bugar dan sehat, Anda juga mempunyai waktu lebih untuk menikmati tiap inci kota ini.

Terlebih saat akhir pekan, para pengendara sepeda akan lebih leluasa untuk gowes dan jalan-jalan di area Car Free Day pada pagi hari di sepanjang ruas jalan T. Daud Beureueh hingga bundaran simpang lima. Selain terhindar dari polusi kendaraan bermotor, anda juga akan bertemu denan komunitas-komunitas sepeda lainnya di sini.

3. Hunting Foto di Tengah Kota
Kelap-kelip lampu jalanan tentunya mlimabah keindahan malam kota Banda Aceh. Tidak ada salahnya jika Andapun turut merekam keindahan dan warna malam kota ‘Iskandar Muda’ ini.
Ada banyak spot yang tentu tidak boleh dilewatkan dari jepretan kamera Anda. Objek foto seperti Jembatan Pante Pirak, Mesjid Raya Baiturrahman, Balai Kota Banda Aceh, Bundaran Simpang Lima, Jembatan Pangoe, dan lainnya bisa menjadi tempat pilihan Anda.

Untuk ini, datanglah bersama teman-teman Anda. Tentunya mengabadikan keindahan malam bersama akan lebih menyenangkan dan seru! Namun jangan lupa untuk memastikan kendaraan Anda terparkir dengan benar dan aman.

4.Mengunjungi Hutan Kota Banda Aceh
Hutan kota juga bisa menjadi salah satu tempat untuk menghabiskan waktu di Banda Aceh. Selain bisa menghirup udara segar dan jauh dari polusi, Anda juga bisa mengenal berbagai tanaman yang ada di sana. Setiap tanaman yang ada di hutan kota diberikan label dengan menggunakan nama Ilmiah maupun nama yang biasa dikenal.

Bagi yang ingin berolahraga, taman kota yang teletak di kawasan Tibang ini juga menyediakan sarana olahraga berupa jalan setapak sepanjang satu kilometer yang biasa dipakai jogging. Sarana lain seperti basket dan lapangan futsal juga disedikan di sini.

Bukan hanya itu saja, para pengunjung bisa menelusuri jembatan kayu yang panjangnya lebih kurang satu kilometer. Jembatan yang dibangun diatas tambak bakau tersebut mempunyai kontruksi yang kuat dan jalan yang berliku. Meskipun demikian tidak perlu ragu untuk menelusuri jembatan Tambak Bakau tersebut.

Jangan lupa mengabadikan diri Anda di sana! Jembatan yang dikelilingi oleh pohon bakau itu menjadi salah satu spot foto yang paling diminati oleh pengunjung. Jadi, jangan lupa siapkan kamera saat berkunjung ke sini.

5.Wisata Kuliner di Peunayong
Puas berkeliling kota Banda Aceh, tidak ada salahnya untuk mencicipi kuliner yang ada di sini. Peunayong bisa menjadi pilihan bagi Anda yang ingin mengisi perut.

Rex peunayong yang terletak di Jalan Ahmad Yani merupakan pusat kuliner di kawasan pecinaan Banda Aceh ini. Ada beragam pilihan menu makanan yang tersedia di sini seperti Sate Matang, Martabak, dan lainnya. Tiap malamnya, banyak muda-mudi maupun keluarga yang datang ke sini untuk menyantap makan malam.

6. Bermain air di Pantai Lhoknga dan Lampuuk
Nah, akhir pekan biasanya banyak warga datang ke pantai ini. Pantai biasanya menjadi salah satu pilihan untuk berlibur. Karena suasana pantai dipadukan dengan gunung, pantai bisa menyegarkan pikiran dan juga bisa menambah energi yang baru.

Banyak mitos mengatakan kalau kita sedang banyak masalah, teriaklah dipinggir pantai. Teriakan itu biasanya akan dibawa oleh angin dan sedikit menghilangkan beban perasaan kita. Di luar itu semua, pantai menjadi kunjungan bagi warga pendatang di luar Banda Aceh

Rabu, 02 Januari 2013

Saat Ngangkang Style Dipermasalahkan

Ada aturan baru di Aceh. Para wanita tidak boleh ngangkang saat duduk di atas kendaraannya. Trus gue harus encok gitu??--"
Tentu saja memunculkan sejumlah pro dan kontra. Sepanjang hari, komentar mengenai larangan tersebut membanjiri sejumlah linimasa. Baik twitter dan facebook tak henti-henti berkomentar untuk pemerintah kota Lhokseumawe ini.
Di twitter, pulihan orang mulai berkicau sejak tadi siang. Media sosial yang berkapasitas 140 karakter tersebut dipenuhi kicauan tentang perempuan ngangkang. Pun di Facebook, dengan karakter yang lebih banyak para aktifis dunia maya melemparkan ketidakpuasan mereka terkait ide pak walikota.
Yang menariknya, TIDAK HANYA PEREMPUAN saja yang berkicau ketidaksetujuan mereka. LAKI-LAKI PUN IKUT BERSUARA. Diskriminasi atas nama agama bagi para perempuan ternyata juga dibela oleh kaum laki-laki.
"Setelah ada gangnam style, maka sekarang ngangkang style" kicau seseorang yang terdeteksi di timeline twitter saya @sinyaak
Bahkan ada yang langsung ingin menjadikan #ngangkangstyle sebagai tranding topic. Itulah gunanya media sosial saat ini. Semua unek-unek rakyat akan kebijakan pemimpinnya diprotea beramai-ramai. Saling sahut-menyahut.
Saya pribadi bukan tidak setuju dengan adanya perda tersebut. Namun lagi-lagi, akidah dan syariat islam dijadikan tameng untuk mengatur masyarakat. Kali ini lebih parah! Setelah diatur berpakaian yang baik, maka sekarang perempuan harus diatur bagaimana mengendarai motor dengan baik. Lalu esoknya kami akan diatur bagaimana makan dengan baik, tidur dengan baik, dan menggauli suami dengan baik.
Kenapa semua perda yang ada terus mendiskreditkan perempuan? Kami diatur, ditata atas nama syariat. Tapi syariat yang dibuat oleh pemerintah tidak pernah mengatur berapa harga minimal yang harus kami jual, berapa uang yang harus kami terina saat kami melahirkan.
Tidak ada perda yang menuliskan berapa rupiah yang harus kami terima untuk menyapih anak kami selama dua tahun hingga kami harus berhenti sejenak dari pekerjaan. Semua perda yang dibuat selalu menyalahkan kami, para perempuan yang secara paksa terkukung oleh suatu hal bernama syariat.
Sekarang, masyarakat miskin di Aceh berjumlah 876ribu orang. Yang kami punya hanyalah sepeda motor. Bagaimana kami tidak duduk mengangkang sedangkan kami harus mengangkut beban dan melewati jalan raya yng juga dilalui oleh truk-truk pengangkut alat berat dan bus antar kota? Sedangkan jika kami punya mobil. Mungkin kami tidak terkena impas dari peraturan baru yang akan sibuat oleh penguasa daerah sini.
Yang saya tau, seperti itulah kira-kira suara rakyat kecil. Para perempuan di kota pun rasanya hampir sama.
Saya malah terkenang dengan masa lalu, saat saya duduk kelas enam SD. Saya tipikal orang yang tidak tahan mengenakan rok. Meskipun aturan sekolah menyuruh memakai rok, saya pernah terpikir untuk membeli celana dan memakai celana layaknya anak cowo. Namun tidak jadi, karna ibu saya tidak mau membelikan saya celana, meskipun saya sudah memotong rambut seperti laki-laki, cepak!
Akhirnya, saya terpaksa dudum menyamping saat ibu menjemput saya ke sekolah. Saat itu kami diharuskan berjilbab, namun hanya hari senin hingga rabu saya memakai jilbab. Selebihnya rok selutut. Karna tidak biasa duduk menyamping, setiap kali duduk diatas motor, saya hampir terjatuh. Dan rasanya agak susah mengatur kaki untuk bertumpu diatas tempat sedal motor.
Pernah, karena terlalu ribet dan pinggang saya sakit harus duduk menyamping. Saya nekat untuk duduk ngangkang dengan rok panjang. Lucu mungkin. Tapi lebih baik ketimbang saya harus jatuh dari kendaraan. Hampir empat tahun, begitulah kelakuan saya. Tanpa peduli tatapan orang lain, saya tetap duduk ngangkang saat dijemput ayah dari sekolah.

Sabtu, 15 Desember 2012

Sumur Tiga, Hawai-nya di Ujung Barat Indonesia


Hawai begitu dipuja dengan keindahan pantai berpasir putih serta pesona lautnya. Terlebih pemandangan indah yang ditawarkan saat matahari terbenam. Tak heran jika banyak para pelancong yang menghabiskan bulan madunya di sana.

Namun, keelokan pantai yang sama tidak hanya ada di negara bagian Amerika Serikat saja. Sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari Ibukota Provinsi Aceh ternyata menyimpan ‘surga’ dunia yang tak kalah cantiknya.




Menyeberangi Selat Malaka dari Pelabuhan Ulee Lheu menuju Pulau Weh, Sabang, kemudian bertolak ke arah timu, para traveler akan dihadapkan dengan garis pantai yang dipagari oleh pohon kelapa. Suara deburan ombak pun bisa didengar selama perjalangan menuju ke sana.  Itulah Pantai Sumur Tiga.
Pantai Sumur Tiga adalah pantai dengan pasir putih dan juga gradasi warna laut yang menawan. Tekstur pantai yang lembut dengan garis pantai yang sangat panjang menjadi daya tarik terpendam dari pantai ini. Sumur tiga menjadi salah satu pantai dengan garis pantai terpanjang di Sabang.

Sumur tiga juga disebut sebagai ‘Hawai’ yang terlempar di Ujung Barat Indonesia. Hal ini dikarenakan pantai ini mempunyai pasir putih lengkap dengan laut berwarna biru kehijauan yang membuatnya mirip dengan Hawai di Amerika Serikat. Namun, nuansa berbeda ditawarkan di tempat ini.




Para pencinta foto, terutama foto sunrise, tentunya tidak akan melewatkan untuk mengabadikan pemandangan ini dengan lensa kameranya. Sumur Tiga menjadi salah satu tempat yang tidak terlewatkan dalam daftar. Geografis pantai yang menghadap ke arah timur, membuat anda bisa menikmati warna-warna emas yang bermunculan di langit saat matahari terbit.

Bagi pencinta snorkeling, Sumur Tiga menjadi salah satu tempat yang asyik untuk menikmati keindahan bawah laut Sabang. Tidak perlu menyewa perahu untuk melihat ‘surga’ bawah laut, berbekal snorkeling gear yang anda bawa atau anda sewa dari tempat penginapan, andapun bisa langsung berenang dan menyurusi pantai.







Tidak terlalu sulit untuk mencari lokasi pantai ini. Dari Kota Sabang, para wisatawan hanya perlu memacu kendaraan ke arah timur. Jalan beraspal dan tidak terlalu berkelok memudahkan para traveller sampai di lokasi.

Perjalanan ke sini hanya memakan waktu tak sampai tiga puluh menit menggunakan kendaraan roda dua. Lokasi yang tak jauh dari pusat kota Sabang ini merupakan salah satu tempat untuk menyaksikan pesona matahari terbit di ujung barat Indonesia

Sumber:
The Globe Journal

Sekilas Tentang Kopi

Belum ke Banda Aceh dong kalo belum mencoba kopi Aceh. Aceh merupakan salah satu daerah terbesar penghasil kopi arabika dan robusta di dunia. Kopi Aceh kebanyakan diekspor ke berbagai negara luar dan menjadi bahan utama racikan kopo di starbucks.
Daratan tinggi gayo atau gayo highland merupakan daerah produsen kopi utama di Aceh. Di sepanjang daerah Bener Meriah hingga Takengon, petani kopi menanam dan memproduksi kopi yang dibutuhkan oleh para distributor kopi.
Disinilah greenbean dihasilkan dan dipilah untuk mencari biji kopi terbaik. Kebanyakan para distributor mengambil greenbean untuk diekspor daripada bubuk kopi atau kopi yang telah diroasting.
Awalnya kopi yang terkenal di Aceh adalah kopi ulee kareng. Para pendatang pasti akan ke ulee kareng untuk mencoba kopi terbaik dari Aceh.
Jika dulu kopi hanya dikenal kopi hitam atau black coffee. Kini para penikmat kopo bisa menikmati berbagai jenis turunan kopi seperti capucino, coffeelate, mocca, dan lainnya.
 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com