Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2013

Mengunjungi Putri Pukes [Ke Gayo part III]


“Mau lihat manusia berubah jadi batu?” ujar tukang becak yang mengantar Saya mengitari pusat wisata di kota tengah pegunungan ini. Anggukan tanda persetujuanpun mengantarkan saya ketempat tujuan. Jam menunjukkan pukul 16.00 wib saat becak membawaku menuju tempat manusia batu.

Angin pegunungan yang berhembus cukup membuat saya harus  merapatkan jaket untuk menghangatkan diri. Tidak begitu jauh dari pintu gerbang bertuliskan ‘Wisata Danau Lut Tawar’, deretan para penjual jajanan pun terlihat berjejer di seberang danau. Setelah menempuh tigapuluh menit perjalanan, becak mesin itu berhenti di sebuah gua.

Gua tersebut menyimpan sosok manusia yang berubah menjadi batu. Rasa penasaran membuat aku menginjakkan kaki untuk masuk ke dalam gua. Namun, untuk masuk dan melihat itu ternyata tidak gratis. Aku membayar Rp 4000,- untuk tiket masuk wisata ke dalam gua.

Mulut gua tersebut tidak muat untuk tiga orang yang masuk sekaligus. Para pengunjung lain yang datang bersamaan harus berbaris untuk bisa masuk ke dalam gua. Saya kembali menapaki tangga batu untuk turun masuk melihat manusia batu tersebut.

Saat masuk dalam gua yang berukuran kira-kira 10x30 meter tersebut, Aku langsung disuguhi pemandangan relief gua yang berbentuk secara alami tersebut. Ditengah gua terdapat sumur yang akan penuh selama tiga bulan sekali dari mata air pegunungan. Tak begitu jauh dari sumur, terdapat sebuah patung yang merupakan sesembahan masyarakat pada zaman dulu kala.

Para pemandu mengarahkan kami untuk turun lebih dalam lagi untuk melihat manusia batu. Letaknya agak lebih masuk, menepi ke sebelah kiri dari sisi gua itu sendiri. Diterangi dengan lampu pijar yang sengaja dipasang, membuat wisatawan bisa melihat langsung batu yang berasal dari wujud manusia itu.

“Ini adalah putri pukes. Dia berubah jadi batu karena melawan titah orangtuanya,” ujar Abdullah.
Abdullah pun menuturkan kisah Putri Pukes untuk menjawab rasa penasaran para pengunjung yang datang ke sana. Alkisah Putri Pukes adalah seorang yang tinggal di sebuah kampung bernama Nosar. Dia pun menikah dengan pemuda dari kampung seberang, Samar Kilang (saat ini masuk Kabupaten Bener Meriah). “Dalam adat perkawinan dulu, jika seorang pengantin wanita hendak pergi mengikut suaminya, maka dia tidak boleh kembali lagi kepada orangtuanya kecuali sudah mendapatkan keturunan,” tuturnya.

Maka, saat iringan pengantin membawa sang putri meninggalkan rumah dan kampung halamannya, kendati Putri Pukes itu adalah anak satu-satunya, sang ibupun berpesan padanya agar tidak menoleh kebelakang. “Jika kau hendak pergi ikut suamimu, aku ijinkan. Tapi jangan menoleh kebelakang,” ujar Abdullah melafalkan ucapan ibu putri pukes.

“Singkat cerita, saat rombongan sang putri sudah menyeberangi danau, sang putripun teringat akan keluarganya. Karena sangat sedih harus meninggalkan ibunya, dia menoleh kebelakang. Lalu datanglah petir dan badai, sehingga para ketua rombongan menyuruh mereka berlindung di dalam gua ini,” sambungnya.

Setelah badai berhenti, rombonganpun keluar dari gua, tapi mereka tidak mendapatkan Putri bersama mereka. Mereka panik dan mencari putri keseluruh penjuru gua, dan mendapati Putri yang terduduk di dalam dengan badannya yang telah mengeras seperti batu.

Sedangkan suaminya, ujar Abdullah juga berubah menjadi batu. Namun wujudnya jauh dari gua sang putri. “Suaminya juga berubah menjadi batu karena permintaannya sendiri. Dia merasa tidak ada gunanya lagi kembali ke kampung, sedang istrinya sudah menjadi batu. Suami Putri Pukes itu jauh diatas gunung, sekitar 200 meter dari sini,” jelasnya.

Sudah puluhan, mungkin ratusan kali Abdullah menuturkan kisah putri pukes ini pada wisatawan yang berganti tiap harinya. Abdullah adalah penduduk asli dan pewaris gua pukes dari leluhurnya. “Saya sudah dari kecil disini. Ini adalah tanah keluarga saya, jadi saya coba untuk melestarikannya,” ungkapnya.

Dia sendiri sudah menjaga gua Pukes ini sejak tahun 1991. Sedikit demi sedikit, uang yang dia dapat dari tiket masuk para pengunjungpun dipergunakan untuk biaya hidup keluarganya serta mempercantik tampilan muka gua.

“Uangnya saya belikan semen, saya bangun ini biar cantik. Ini kendi, relief tangan dan kaki, saya yang buat. Jadi kalau tempat ini cantik juga banyak pengunjungnya,” jelasnya sambil tersenyum.
Abdullah mengatakan meskipun tempat ini menjadi salah satu objek wisata di daratan tinggi Gayo, namun pemerintah daerah dibawah dinas kebudayaan dan pariwisata tidak memberikan bantuan untuk merenovasi tempat ini.

“Tidak ada bantuan dari pemerintah. Ini semua murni saya kelola. Bangunan ini, semua saya bangun dari uang saya,” katanya.

pernah dipostingkan di The Globe Journal

Berkunjung ke Daratan Tinggi Gayo [part I]



Beberapa waktu lalu, admin @iloveaceh mengunjungi daratan Takengon. Jadi teringat saat berkunjung ke tempat penghasil kopi di Aceh ini. Awal November 2012 lalu, saya pergi ke sana bersama mama saya. Bertolak dari Kota Bireueun pukul 08.00 Wib, kami naik angkutan antar kota, L300 menuju ke Takengon.

Melewati jalanan sempit dengan yang dipagari oleh gunung dan jurang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Belum lagi hampir sepanjang perjalanan saya seperti berjalan di atas badan ular, karna jalanan di sana berkelok-kelok layaknya badan ular.

Tepat tengah hari, Saya dan Mama sampai di daratan tinggi Gayo tersebut. Di sambut hawa dingin yang sangat berbeda dengan cuaca di Banda Aceh, membuat saya segera mengeluarkan jaket dari dalam tas. Langsung memakainya. Untuk hari itu pakai sepatu kets, sehingga kaki saya terlindung dari hawa dingin. Brrr…

Tempat yang pertama kali kami kunjungi saat sampai ke sana adalah Mesjid Agung Takengon. Soalnya pas sampai sudah mulai zuhur, jadi mamak menyuruh nyari tempat untuk shalat dan beristirahat sejenak. Jadilah kami mencari kendaraan di dalam kota. Dan lagi-lagi  kendaraan yang paling diminati adalah... Becak mesin. Hahahaha.

Becak mesin menjadi pilihan karna harga sewanya murah. Alasan klise kali ya karna ngak ada motor untuk berkeliling kota di atas awan itu. Hahaha. Lagipula, naik becak mesin sama halnya seperti naik motor. Bisa melihat alam sekitar selama mengelilingi kota. Pun masih bisa celingak-celinguk untuk ngambil beberapa foto pemandangan di kota tersebut.

Oke, lanjut lagi! Setelah bernegosiasi dengan abang becak, menentukan harga dan menentukan rute wisata yang akan dituju. Akhirnya, si Abang becak membawa kami ke Mesjid Agung di Takengon. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pangkalan L300 tempat kami turun. Tidak sampai sepuluh menit, kamipun sampai di sana.


Mesjid itu hampir sama dengan Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. Sama-sama mempunyai halaman yang luas. Meskipun lebih luas mesjid di Banda Aceh sih, tapi cukup luas untuk mesjid-mesjid lain di Takengon. Mesjid Agung itu terletak di dekat kantor bupati. Dari sebelah kiri (saat masuk ke halaman mesjid) saya bisa melihat pemandangan kota takengon dan gunung yang bertulis 'Gayo Highland'. Keren banget deh!

Setelah menunaikan shalat Zuhur, saya dan mama langsung mencari tempat makan. Lapar! Kamipun memilih rumah makan yang berada tepat di seberang jalan mesjid tadi. Yang unik di sini adalah jangan pernah memesan minuman dingin atau minta es pada penjual makanan. Karna memang di daerah ini tidak menyediakan minuman dingin dan juga es batu. Jadi minuman atau apapun memang disajikan secara hangat-hangat kuku. 

Waktu itu, penjual toko sempat tersenyum saat saya memesan teh dingin. "Ngak ada es dek," begitu jawabnya. Sayapun heran. "Ini udah dingin, apalagi minum dingin. Tunggu aja bentar lagi, dingin sendiri," ujar mama. Iya juga sih. Ngak lama setelah diletakkan di meja, air teh hangatpun berubah jadi teh dingin. Namanya juga ke tempat dingin, ngapain es lagi, ujarku dalam hati.

Pukul 14.00 Wib, si Abang becak yang sudah dicarter tadipun menjemput kami di mesjid tadi. Sesuai perjanjian, kami membayar Rp 60.000,- untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata di sini. Destinasi pertama adalah Pemandian Air Panas yang terletak di Kabupaten Bener Meriah, itu artinya kami kembali ke belakang. Hahaha..


Karena selama perjalanan naik mobil saya tidur, jadilah kepala saya mundur ke belakang. Pergilah kami ke Pemandian Air Panas. Di sinilah saya bisa melihat kebun-kebun kopi sepanjang perjalanan ke tempat tujuan. Tanaman kopi itu ditanam di kebun yang terletak di pinggiran jalan.

Perjalanan ke pemandian air panas itu membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Dengan kecepatan kurang tau juga sih abang becak ngebut apa ngak. Yang jelas pegunungan dan jurang yang dalam banget menghiasi perjalanan hari itu.

------bersambung---

Senin, 28 Januari 2013

Enam Cara Menghabiskan Waktu di Banda Aceh

Bagi kebanyakan orang, libur panjang akan dimanfaatkan untuk pergi ke luar kota. bepergian ke tempat lain untuk bisa menikmati suasana baru dan juga menjauhkan penat. Tapi tidak semua orang beruntung bisa merencanakan liburan yang mereka inginkan. Sebut saja anak kuliah, mereka pasti masih harus tinggal di daerah mereka sampai liburan usai, padahal sebentar lagi libur tahun baru menyambut kita semua.

Tapi tidak perlu takut, ada banyak tempat di Banda Aceh yang bisa dikunjungi saat sedang liburan. Mungkin tempat-tempat ini bisa menjadi contekan dan inspirasi untuk menghabiskan waktu di kuta raja.

1.Mengunjungi Tempat Wisata Tsunami
Tsunami memang pernah meluluhlantakkan Aceh, khususnya Kota Banda Aceh. Hampir semua infrastruktur di kota ini lumpuh saat bencana alam 2004 silam. Bagi Anda yang ingin menyaksikan kembali tragedi tersebut, Museum Tsunami menjadi pilihan yang tepat untuk dikunjungi.

Bangunan yang didesain oleh M. Ridwan Kamil ini dibangun untuk mengenang gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 lalu. Dalam bangunan berbentuk kapal ini, Anda bisa menyaksikan bagaimana peristiwa dahsyat itu terjadi.

Tentunya lewat film yang diputar di ruang audio visual serta foto-foto yang dipajang di dalam museum. Selain itu, ada juga bisa melihat miniatur tsunami yang menggambarkan keadaan sesudah gempa hingga tsunami terjadi.

Tidak hanya Museum Tsunami, Anda juga bisa berkunjung ke kapal PLTD Apung di kawasan Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Demikian pula dengan Kapal di Atas Rumah di kawasan Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Dua objek wisata ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar Aceh.

2. Bersepeda di Jalan Kota
Menelusuri kota Banda Aceh dengan sepeda juga menjadi pilihan yang menyenangkan. Selain membuat tubuh lebih bugar dan sehat, Anda juga mempunyai waktu lebih untuk menikmati tiap inci kota ini.

Terlebih saat akhir pekan, para pengendara sepeda akan lebih leluasa untuk gowes dan jalan-jalan di area Car Free Day pada pagi hari di sepanjang ruas jalan T. Daud Beureueh hingga bundaran simpang lima. Selain terhindar dari polusi kendaraan bermotor, anda juga akan bertemu denan komunitas-komunitas sepeda lainnya di sini.

3. Hunting Foto di Tengah Kota
Kelap-kelip lampu jalanan tentunya mlimabah keindahan malam kota Banda Aceh. Tidak ada salahnya jika Andapun turut merekam keindahan dan warna malam kota ‘Iskandar Muda’ ini.
Ada banyak spot yang tentu tidak boleh dilewatkan dari jepretan kamera Anda. Objek foto seperti Jembatan Pante Pirak, Mesjid Raya Baiturrahman, Balai Kota Banda Aceh, Bundaran Simpang Lima, Jembatan Pangoe, dan lainnya bisa menjadi tempat pilihan Anda.

Untuk ini, datanglah bersama teman-teman Anda. Tentunya mengabadikan keindahan malam bersama akan lebih menyenangkan dan seru! Namun jangan lupa untuk memastikan kendaraan Anda terparkir dengan benar dan aman.

4.Mengunjungi Hutan Kota Banda Aceh
Hutan kota juga bisa menjadi salah satu tempat untuk menghabiskan waktu di Banda Aceh. Selain bisa menghirup udara segar dan jauh dari polusi, Anda juga bisa mengenal berbagai tanaman yang ada di sana. Setiap tanaman yang ada di hutan kota diberikan label dengan menggunakan nama Ilmiah maupun nama yang biasa dikenal.

Bagi yang ingin berolahraga, taman kota yang teletak di kawasan Tibang ini juga menyediakan sarana olahraga berupa jalan setapak sepanjang satu kilometer yang biasa dipakai jogging. Sarana lain seperti basket dan lapangan futsal juga disedikan di sini.

Bukan hanya itu saja, para pengunjung bisa menelusuri jembatan kayu yang panjangnya lebih kurang satu kilometer. Jembatan yang dibangun diatas tambak bakau tersebut mempunyai kontruksi yang kuat dan jalan yang berliku. Meskipun demikian tidak perlu ragu untuk menelusuri jembatan Tambak Bakau tersebut.

Jangan lupa mengabadikan diri Anda di sana! Jembatan yang dikelilingi oleh pohon bakau itu menjadi salah satu spot foto yang paling diminati oleh pengunjung. Jadi, jangan lupa siapkan kamera saat berkunjung ke sini.

5.Wisata Kuliner di Peunayong
Puas berkeliling kota Banda Aceh, tidak ada salahnya untuk mencicipi kuliner yang ada di sini. Peunayong bisa menjadi pilihan bagi Anda yang ingin mengisi perut.

Rex peunayong yang terletak di Jalan Ahmad Yani merupakan pusat kuliner di kawasan pecinaan Banda Aceh ini. Ada beragam pilihan menu makanan yang tersedia di sini seperti Sate Matang, Martabak, dan lainnya. Tiap malamnya, banyak muda-mudi maupun keluarga yang datang ke sini untuk menyantap makan malam.

6. Bermain air di Pantai Lhoknga dan Lampuuk
Nah, akhir pekan biasanya banyak warga datang ke pantai ini. Pantai biasanya menjadi salah satu pilihan untuk berlibur. Karena suasana pantai dipadukan dengan gunung, pantai bisa menyegarkan pikiran dan juga bisa menambah energi yang baru.

Banyak mitos mengatakan kalau kita sedang banyak masalah, teriaklah dipinggir pantai. Teriakan itu biasanya akan dibawa oleh angin dan sedikit menghilangkan beban perasaan kita. Di luar itu semua, pantai menjadi kunjungan bagi warga pendatang di luar Banda Aceh

Sabtu, 15 Desember 2012

Sumur Tiga, Hawai-nya di Ujung Barat Indonesia


Hawai begitu dipuja dengan keindahan pantai berpasir putih serta pesona lautnya. Terlebih pemandangan indah yang ditawarkan saat matahari terbenam. Tak heran jika banyak para pelancong yang menghabiskan bulan madunya di sana.

Namun, keelokan pantai yang sama tidak hanya ada di negara bagian Amerika Serikat saja. Sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari Ibukota Provinsi Aceh ternyata menyimpan ‘surga’ dunia yang tak kalah cantiknya.




Menyeberangi Selat Malaka dari Pelabuhan Ulee Lheu menuju Pulau Weh, Sabang, kemudian bertolak ke arah timu, para traveler akan dihadapkan dengan garis pantai yang dipagari oleh pohon kelapa. Suara deburan ombak pun bisa didengar selama perjalangan menuju ke sana.  Itulah Pantai Sumur Tiga.
Pantai Sumur Tiga adalah pantai dengan pasir putih dan juga gradasi warna laut yang menawan. Tekstur pantai yang lembut dengan garis pantai yang sangat panjang menjadi daya tarik terpendam dari pantai ini. Sumur tiga menjadi salah satu pantai dengan garis pantai terpanjang di Sabang.

Sumur tiga juga disebut sebagai ‘Hawai’ yang terlempar di Ujung Barat Indonesia. Hal ini dikarenakan pantai ini mempunyai pasir putih lengkap dengan laut berwarna biru kehijauan yang membuatnya mirip dengan Hawai di Amerika Serikat. Namun, nuansa berbeda ditawarkan di tempat ini.




Para pencinta foto, terutama foto sunrise, tentunya tidak akan melewatkan untuk mengabadikan pemandangan ini dengan lensa kameranya. Sumur Tiga menjadi salah satu tempat yang tidak terlewatkan dalam daftar. Geografis pantai yang menghadap ke arah timur, membuat anda bisa menikmati warna-warna emas yang bermunculan di langit saat matahari terbit.

Bagi pencinta snorkeling, Sumur Tiga menjadi salah satu tempat yang asyik untuk menikmati keindahan bawah laut Sabang. Tidak perlu menyewa perahu untuk melihat ‘surga’ bawah laut, berbekal snorkeling gear yang anda bawa atau anda sewa dari tempat penginapan, andapun bisa langsung berenang dan menyurusi pantai.







Tidak terlalu sulit untuk mencari lokasi pantai ini. Dari Kota Sabang, para wisatawan hanya perlu memacu kendaraan ke arah timur. Jalan beraspal dan tidak terlalu berkelok memudahkan para traveller sampai di lokasi.

Perjalanan ke sini hanya memakan waktu tak sampai tiga puluh menit menggunakan kendaraan roda dua. Lokasi yang tak jauh dari pusat kota Sabang ini merupakan salah satu tempat untuk menyaksikan pesona matahari terbit di ujung barat Indonesia

Sumber:
The Globe Journal

Sekilas Tentang Kopi

Belum ke Banda Aceh dong kalo belum mencoba kopi Aceh. Aceh merupakan salah satu daerah terbesar penghasil kopi arabika dan robusta di dunia. Kopi Aceh kebanyakan diekspor ke berbagai negara luar dan menjadi bahan utama racikan kopo di starbucks.
Daratan tinggi gayo atau gayo highland merupakan daerah produsen kopi utama di Aceh. Di sepanjang daerah Bener Meriah hingga Takengon, petani kopi menanam dan memproduksi kopi yang dibutuhkan oleh para distributor kopi.
Disinilah greenbean dihasilkan dan dipilah untuk mencari biji kopi terbaik. Kebanyakan para distributor mengambil greenbean untuk diekspor daripada bubuk kopi atau kopi yang telah diroasting.
Awalnya kopi yang terkenal di Aceh adalah kopi ulee kareng. Para pendatang pasti akan ke ulee kareng untuk mencoba kopi terbaik dari Aceh.
Jika dulu kopi hanya dikenal kopi hitam atau black coffee. Kini para penikmat kopo bisa menikmati berbagai jenis turunan kopi seperti capucino, coffeelate, mocca, dan lainnya.

Sabtu, 03 November 2012

Food Street Photography

Pas ada acara Food Street Photography bareng bang Tony Wahid, fotografer dan pengelola blog Cikopi.com tentunya aku ngak mau ketinggalan dong. Yah meskipun ketinggalan kamera dirumah (ngak elit banget) tapi masih bisa motret beberapa angle. Yah tak seberapamanalah ini, karena cuma pake kamera handphone Sammy yang kapasitas 5.0 MP dan fokusnya rada ngak jelas sentingannya. XD




Makan Kuah Sie Kameng


Kuah Sie Kameng atau kuah Beulangeng merupakan masakan tradisional Aceh. Dinamakan kuah beulangeng karena dimasak dalam sebuah belanga yang berkuruan lumayan besar. Kuah ini biasanya dimasak saat ada acara seperti keunduri, acara walimahan dan saat meugang.

Nah berkunjung ke Aceh, belum lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuah belanga ini. Rasanya yang khas dan dimasak secara khas menjadi nilai lebih dari makanan ini. :D










Jumat, 02 November 2012

Inilah Cara Penentuan Kualitas Citarasa Kopi




Indonesia, terutama Aceh adalah penghasil ‘Speciality Coffe’ atau kopi dengan kualitas diatas nilai 80 jika diukur dengan angka. Untuk penentuan mutu kopi yang baik, selain dilihat dari penampakan fisiknya yang tidak cacat, juga dinilai dari aroma dan rasa kopinya. Proses penilaian seperti ini disebut dengan uji cita rasa kopi.

Jum'at (2/11) kemarin, dalam acara Aceh Coffe Food and Festival yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, sayapun menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu stand yang akan melakukan penilaian terhadap citarasa kopi.  Tentu saa saya penasaran bagaimana proses kerja dari para cupper dan Q-Grader dalam menentukan mana kopi yang baik dan terbaik mutu dan kualitasnya.

Stand ini bernama Gayo Cuppers Team (QCT). GCT ini sendiri adalah salah satu perkumpulan para penguji cita rasa (cupper) dan para Q-Grader yang berjumlah enam orang yang ada di Aceh.

Ketua Gayo Cuppers Team, Mahdi mengatakan untuk menilai dan mengatakan bahwa kopi tersebut baik dan berkuliatas, harus dilakukan pengujian sepuluh komponen didalamnya. Kesepuluh kompenen itulah yang akan dipakai untuk menilai kualitas aroma dan rasa kopi tersebut. “Untuk menilai itu kita pakai sepuluh atribut (komponen) yaitu Fragrance, Flavor, Aftertaste, Acidity, Body, Ballace, Uniformity, Clean cup, Sweetness, dan over all atau penilaian secara keseluruhan,” sebutnya.

Penilaian aftertaste adalah penilaian saat kopi tersebut diminum. Mahdi mengatakan bahwa kopi yang bagus itu adalah kopi yang masih terasa dimulut dalam rentang waktu yang lama. Sedangkan Body itu sendiri adalah penilaian terhadap kekentalan kopi. “Kental disini bukan kental karena perbandingan bubuk kopi dengan air,” ujarnya.

Kopi yang baik, kata Mahdi, adalah kopi yang punya keseimbangan (ballance) yang baik, dimana tidak ada satu faktor yang lebih ditonjolkan dari kopi itu sendiri, seperti keasaman yang terlalu berlebih. “Uniformity itu adalah keseragaman dari sampel. Jika ada lima gelas, maka kelima gelas itu tidak ada rasa yang berbeda,” jelasnya.

Untuk sweetness atau tingkat kemanisan sendiri juga diukur. Kopi arabika tidak bagus jika tidak manis. “Kopi arabika itu terkenal dengan rasa yang manis dan asam. Begitu pula dengan kopi robusta

Di stand ini, Saya juga berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana para cupper dan Q-Grader membubuhkan angka untuk mengetahui kualitas dari rasa dan aroma tiap sampel kopi yang ada. Penilaian ini disebut dengan coffe cupping. Kopi yang akan dinilai kali ini adalah kopi luwak arabika. Standar penilaian kopi yang dipakai di seluruh dunia mengharuskan tiap sampel kopi disajikan dalam lima gelas.
Para Cuppers dan Q-Grader tengah menyeruput kopi sampel yang akan dinilai.
Penilaian terhadap sepuluh komponen tersebut dilakukan untuk mengetahui kualitas suatu kopi

Mula-mula para penilai akan mencium bau bubuk kopi dari tiap sampel yang ada. Ukuran bubuk yang dipakai, ujar Mahdi, tidak boleh terlalu halus. “Ukuran bubuk yang dipakai itu tidak boleh terlalu halus. Jika terlalu halus maka tidak ada yang bisa dirasa dipori-pori lidah. Untuk ini kita menggunakan ukuran mesh 20,” jelasnya.

Setelah proses penilaian aroma (fragrance) dari bubuk kopi itu selesai. Lalu kopi diseduh dengan air dengan panas 93 derajat celcius. Setelah diseduh, kopi tersebut didiamkan selama empat menit. “Kita diamkan dulu dia selama empat menit, biar sari kopi itu keluar,” tuturnya.

Setelah jangka waktu yang telah ditentukan, para cupper dan Q-Grader tersebut kembali membaui aroma kopi dari keempat sampel yang tersedia di meja. Jika tadi mereka membaui bubuk kopi, kini mereka membaui kopi yang telah diseduh dalam keadaan panas. Kemudian, buih yang dihasilkan saat kopi diseduh dipindahkan atau dibuang sebelum kopi tersebut dicicipi.

Proses penyicipan kopi inipun tampak berbeda. Sampel kopi diambil dengan menggunakan sendok kemudian diseruput oleh para cupper, namun tidak ditelan. Sampel yang sudah diseruput tadi langsung dibuang. Nah semakin kuat kopi tersebut diseruput, maka rasanya akan semakin kuat terasa di lidah. Sebelum berpindah ke sampel yang lain, sendok yang digunakan tersebut terlebih dahulu dicuci dengan air dan dilap dengan tisu.

Proses peniaian citarasa kopi ini hanya membutuhkan waktu 20 menit. “Waktu yang diperlukan kurang dari 30 menit. Karna kalau sudah dingin, maka kopi tidak bisa lagi dinilai,” ujarnya.



Senin, 03 September 2012

Menggila di Lampuuk ^^

Punya teman-teman lucu itu menyenangkan banget. Bawaannya rame mulu! Padahal orangnya nggak rame-rame banget.

Kemarin nih, kita berempat berencana ke laut. Konyol banget sumpah! Gimana nggak, tiap menit itu sesi fotonya bisa beda-beda. Apalagi noh, si Roby, pengen mulu befoto gaya kita. wkwkwkwk.

Aneh-aneh aja itu anak. Beneran deh! 

Sebenarnya, kita pengen pergi rame-rame. yah, hitung-hitung habring bareng-bareng sebelum mulai kuliah lagi. Tapi dari 13 orang yang dismsin, kagak ada satupun yang balas kecuali dua orang, (catet: DUA ORANG DOANG!!) si Ina ama si Roby. Yaudah deh, daripada nggak jadi -soalnya kita udah semangat banget pengen kelaut, pengen buat sial, pengen teriak-teriak, pengen menggila, dan pengen segala-galanya- akhirnya berangkat juga deh tiga makhluk Tuhan paling aduhai sedunia. 

tapi nggak jadi betiga ding. Rupanya si Roby ngajak sepupunya juga, si Awi. Adek leting, anak Dakwah 2012. Nggak ganteng, manis doang! Terlalu pendiam (nggak juga sih, jailnya sama aja), jadi nggak bisa buat di TP-TP in *ampun deh ini anak, dalam otaknya itu TP-TP mulu*

Laut tujuan kita itu adalah LAMPUUK! Nah, itu adalah salah satu pantai yang  jadi objek wisata andalannya banda Aceh (Sebenarnya udah masuk daerah Aceh Besar sih, tapi di tourism map Kota Banda Aceh, ini masuk daerah kawasan wisatanya juga). 

Lampuuk punya view yang sangat-sangat-sangat menarik buat para turis. Selain pemandangan pantai dan gunung, pasir putih dan cemara juga nggak kalah deh memanjakan mata kalian. Makanya, walaupun udah berulang-ulang kali main kesini. Tetep, nggak bosan deh!

Buat yang hoby berjemur ala-ala bule di pantai kuta, kesini aja! Panasnya recomended banget deh untuk ngebuat kulit kamu jadi item! Ngak usah ke salon, cukup ke sini aja, langsung deh GOSONG! 

Yang punya hoby surfing? Ada! Ombak disini nggak kalah gede kali ama pantai kuta. hehehe.. Ombak setinggi 7 meter juga pernah pas tanggal 26 desember 2004 alias tsunami.  Tapi beneran deh, untuk yang suka surfing, banyak kok yang datang ke babah dua, kawasan lampuuk, sambil bawa-bawa papan surfing. Ombaknya DAEBAK! Gila bener!! Gue aja pernah ampir kelelep gitu. Hufh. 

Nggak punya papan surfing? Sewa aja. tapi gue nggak bakalan ngiklan ya. Soalnya gue nggak dibayar buat itu. hehehe. Bukan pelit informasi nih sob, cuma kalau kalian emang pengen banget surfing, langsung  aja singgah di Babah dua, nah di sana ada tempat untuk penyewaan alat-alat surfing. 


Yaudah, akhirnya kita mulai  aja deh dengan sesi-sesi foto. Penjelasannya udah cukup segitu dulu, ntar kita lanjutin lagi. penasaran dong ama viewnya pantai di Aceh?

Untuk sesi foto kali ini ada gue, Ina, Roby dan Awi yang belakangan juga ikutan ambil tempat. Moto pake Canon D1100. Hasilnya? Check this out. ^^


 serasa foto model banget deh!













 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com